Alasan Clinton –
China Menggulingkan Suharto Pada 1998
Kotak Pandora27/09/2018Politik
Foto ikonik Managing
Director Dana Moneter Internasional (IMF) Michel Camdessus yang berdiri ketika
Presiden Soeharto dengan lengan terlipat, terlintas di pikiran seperti seorang
guru sekolah yang sedang menjatuhkan hukuman kepada muridnya yang nakal,
melambangkan kejatuhan pemimpin besar Indonesia yang sudah berusaha maksimal
membangun Indonesia dan mensejahterakan rakyatnya.
Hari itu tanggal 15
Januari 1998, ekonomi Indonesia yang seharusnya tidak terpengaruh hebat akibat
dampak krisis keuangan dan moneter Asia, akhirnya menyerah kalah pada krisis
yang direkayasa Amerika Serikat dan China yang berkolaborasi dengan IMF.
Hari itu 15 Januari 1998, Suharto dan
Indonesia masuk perangkap situasi yang diciptakan konspirasi global yang
didukung penuh mayoritas konglomerat Tionghoa Indonesia.
IMF menyetujui kucuran
utang untuk Indonesia dengan penandatangan perjanjian utang beserta
syarat-syarat yang harus dipatuhi Indonesia oleh Presiden Soeharto. Dengan
menandatangani perjanjian utang US$ 43 miliar, IMF mendorong percepatan
kejatuhan Presiden Suharto, dan merancang masa depan baru untuk Indonesia yang
sarat kepentingan Amerika, China dan para konglomerat Tionghoa Indonesia.
Peran Besar Presiden
Bill Clinton
Rakyat Indonesia tidak
mengetahui peran besar Presiden AS saat itu Bill Clinton dalam menekan Presiden
Suharto agar menyetujui paket persyaratan dan rencana kebijakan IMF yang harus
dipatuhi Indonesia, termasuk penutupan pabrik pesawat terbang PT IPTN,
penghapusan peran BULOG sebagai penyangga stabilitas harga 9 bahan pokok,
penghapusan berbagai subsidi, pembatalan program mobil nasional Timor, dan
penerapan pasar bebas di Indonesia.
Singkatnya, penandatangan
perjanjian dan butir -butir persyaratan penjanjian IMF-RI adalah lonceng
kematian untuk kedaulatan ekonomi RI. Indonesia seketika berada dalam
cengkeraman kekuasaan dan kendali IMF.
Campur tangan
Pemerintah Amerika terutama secara langsung melalui tangan Presiden Bill
Clinton, sesungguhnya bukan suatu hal rahasia lagi.
Transkrip tiga
percakapan telepon Bill Clinton – Suharto yang tahun lalu dinyatakan bebas
diakses publik, menunjukkan betapa ‘persuasifnya’ Presiden Amerika itu dalam
meyakinkan Presiden Suharto. Clinton menekankan kecemasannya bahwa Suharto akan
‘diterjang peluru rakyatnya sendiri’ ketika nilai tukar rupiah jatuh dari 2.500
menjadi lebih dari 16.000 per 1 dolar AS.
Usai Suharto meneken
perjanjian utang dengan IMF, Clinton dengan lega dapat berkata kepada sahabat
karibnya James T Riady, “My mission has accomplished. One of my debts paid
off !”
Mantan Menteri Luar
Negeri AS Lawrence Eagleburger memiliki penilaian khusus setelah pengunduran
diri Suharto, 21 Mei 1998: “Kami cukup pandai karena menggunakan IMF untuk
menggulingkan Suharto. Apakah itu cara bijaksana untuk selanjutnya, adalah
masalah lain. ”
Pada akhirnya, gerakan
reformasi di Indonesia hanya memperburuk krisis ekonomi dan membawa Indonesia
mundur beberapa dekade ke belakang.
Perdana Menteri
Australia Paul Keating – yang menjalin hubungan dekat dengan pemimpin Indonesia
selama bertahun-tahun menuding Departemen Keuangan AS “ … dengan sengaja
menciptakan keruntuhan ekonomi sebagai sarana untuk membawa kejatuhan Soeharto
…”
Kolaborasi Amerika
Serikat, China, CSIS, James Riady – Wanandi Bersaudara telah secara efektif
mempercepat keruntuhan Rezim Suharto, sebagaimana telah mereka rencanakan jauh
sebelumnya.
Bahkan Camdessus
secara tidak tahu malu, dengan gaya bak penguasa pada saat penandatanganan LoI
IMF-RI yang meninggalkan kemarahan rakyat Indonesia, mengatakan: “Kami
menciptakan kondisi yang mengharuskan Suharto untuk meninggalkan kuasaannya.
Kami bangga dengan itu!”
Clinton Tekan Suharto
Pelepasan status rahasia pada transkrip dan dokumen-dokumen AS lainnya, yang
datang dari era tahun 1990-2000 itu dilakukan hanya dua bulan sebelum lebih
dari 15.000 delegasi berkumpul untuk konferensi tahunan IMF-World Bank Group di
Bali, Indonesia.
Pemerintah Jokowi
mendapat kecaman keras atas keputusannya menanggung semua biaya acara tahunan
kedua lembaga keuangan dunia, yang menghabiskan uang pajak rakyat sekitar Rp 1
triliun rupiah di tengah kemerosotan ekonomi dan lonjakan utang luar biasa di
era pemerintahannya.
Kondisi ekonomi
Indonesia sekarang sangat mengkhawatirkan Presiden Joko Widodo dalam persiapan
untuk memenangkan pemilihan presiden tahun 2019: rupiah sekarang bertengger di
15.190 per satu dolar Amerika, level tertinggi sejak 1997-1988 crash, meskipun
pengeluaran bank sentral (BI) sudah mencapai 12 miliar dolar Amerika dalam
beberapa bulan terakhir untuk menopang mata uang.
IMF diam-diam sudah
mengucurkan sekitar 8 miliar dolar Amerika pada bulan Juni 2018 lalu untuk
mengamankan nilai tukar mata uang rupiah terjun bebas. Kemerosotan nilai rupiah
sangat mengkhawatirkan mengingat utang negara dalam denominasi dolar AS sangat
tinggi.
Meskipun tidak seorang
pun berani mengatakan bahwa Indonesia dapat bertahan menghadapi ancaman
pelemahan rupiah ini, namun sejarah siap untuk berulang dan menempatkan
presiden Jokowi sebagai tumbalnya.
Kondisi ekonomi goyah,
mata uang jatuh, utang melonjak, beban pembiayaan proyek infrastruktur melebihi
daya tahan APBN, kredit dan investasi menurun, defisit neraca pembayaran karena
impor terus menerus melampaui ekspor, dan seterusnya memiliki konsekuensi
politik bagi PresidenJoko Widodo menjelang pemilihan presiden April 2019
mendatang.
Disebutkan dalam
dokumen tersebut, Clinton pertama kali menekan Suharto pada 8 Januari 1998,
untuk mendesaknya mendukung reformasi ekonomi dan untuk menjaga suku bunga
tetap tinggi sampai rupiah mulai stabil.
Clinton menawarkan
jasa Deputi Menteri Keuangan Larry Summers sebagai konsultan untuk membantu dalam
proses reformasi di Indonesia. Presiden Suharto, dengan gaya Jawa yang khas,
mengucapkan terima kasih kepada Clinton dan berjanji akan mempertimbangkan
sungguh-sungguh usulan dan saran Amerika.
Keesokan hari, dari
arsip dokumen rahasia itu, menyebut Menteri Perdagangan dan Industri Indonesia
Tunky Ariwibowo mengatakan kepada duta besar AS untuk Jakarta Stapleton Roy
bahwa Suharto terkesan dengan Clinton dan wawasannya tentang bagaimana
masyarakat internasional memandang situasi Indonesia.
Panggilan telepon
berikutnya, Clinton menguraikan rencananya membantu Indonesia dan menyampaikan
saran kepada Suharto untuk melaksanakan perjanjian IMF dan mereformasi sistem
perbankan pusat dan swasta, sebagaimana yang diharuskan dalam letter of intent
(Lo) IMF. Hasilnya luar biasa, dolar AS tetap melambung, 16 bank ditutup dan
meninggalkan utang serta kewajiban perbankan ratusan triliun rupiah yang harus
dipikul Bank Indonesia dan rakyat Indonesia.
Clinton Tolak Rencana
Suharto Terapkan Saran Steve Hanke
Clinton menelpon Suharto untuk ketiga kalinya dari Camp David 13 Februari 1998.
Tanpa keramahan
seperti sebelumnya, kali ini Clinton menentang rencana Suharto untuk
membentukan Dewan Mata Uang, sesuai saran ekonom terkemuka dunia, Steve Hanke.
Clinton mengancam
Suharto dengan mengatakan AS dan negara G7, semua percaya rencana Suharto untuk
menerapkan saran Steve Hanke akan menimbulkan risiko terhadao “segala sesuatu
yang telah Anda capai.”
“Pasar akan bereaksi
negatif jika dewan itu dibentuk. Semua investor dan pelaku pasar akan lari dari
Indonesia dan itu secara serius akan menghabiskan cadangan devisa Indonesia
serta mempersulit upaya IMF dan masyarakat internasional untuk memberikan
dukungan,” ancam Clinton kepada Suharto.
Tak cukup sampai di
situ, Clinton memperingatkan Suharto: “Rencana Anda itu akan menaikkan suku
bunga, menyebabkan runtuh bank-bank dan sistem perbankan dan membuatnya lebih
mudah bagi spekulan untuk bergerak melawan rupiah.”
Clinton mengatakan
meskipun dewan mata uang telah terbukti berhasil di beberapa negara, namun
tidak akan berhasil di Indonesia.
Lalu Clinton menyimpulkan, akan lebih baik jika Suharto memperkuat sistem perbankan, menyelesaikan utang sektor swasta dan terus menerapkan reformasi IMF.
Suharto menanggapi
ancaman Clinton itu dengan mengeluh bahwa resep IMF tampak tidak berhasil dan
menjadikan situasi ekonomi RI semakin buruk, padahal pemerintah sudah
menghabiskan AS $ 10 miliar dari cadangan devisa yang sudah sangat menipis
untuk menopang rupiah.
“Jika pemerintah terus
campur tangan, kami akan menghabiskan cadangan,” kata Suharto membantah
Clinton.
Clinton tidak
menanggapi protes Suharto. Dia terus menekan Suharto untuk membatalkan rencana
menjalankan saran Steve Hanke.
Mengenai Steve Hanke sendiri, pada awal kedatangannya ke Indonesia, semua dilakukan secara rahasia. Edward Suryadjaya anak tertua konglomerat ASTRA, secara khusus menjemput Hanke dengan pesawat pribadi dan membawanya masuk ke Jakarta melalui Bandara Halim Perdana Kusuma.
Namun, agen intel Amerika dan China pada saat itu menyebar di
seluruh penjuru Jakarta untuk mengamankan agenda politik Clinton-RRC: memaksa
Suharto turun dari kekuasaan dan mengambilalih kekuasaan di Indonesia melalui
proksi mereka serta jebakan sistem demokrasi liberal yang dipaksakan kepada
Indonesia.
Agenda Politik
China-Cukong-CSIS & Kilas Balik Clinton-Riady
Keberhasilan James
Riady meyakinkan Presiden Bill Clinton agar segera menjadikan penggulingan
Suharto sebagai program prioritas Pemerintah Amerika Serikat pada akhir tahun
1996, tidak lepas dari utang budi dan pertemanan lama Clinton-Riady.
Mereka berdua sudah
menjalin hubungan erat sejak 1985 ketika James Riady ditugaskan untuk mendekati
Bill Clinton, yang namanya masuk dalam radar intelijen China sebagai calon
presiden Amerika di masa depan.
Penugasan China kepada
James Riady untuk mendekati Bill Clinton dimulai dengan kunjungan Liem Sioe
Liong (Sudono Salim) dan Mochtar Riady ke kota Little Rock, Arkansas.
Liem Sioe Liong adalah
konglomerat terkaya di Indonesia, sekaligus pemilik Bank terbesar BCA. Mochtar
Riady adalah ayah James Riady yang pada saat itu menjabat Direktur Utama Bank
BCA.
Maksud kunjungan
mereka ke ibukota negara bagian Arkansas itu adalah mencari bank yang akan
segera dibeli dan selanjutnya menjadi samaran sempurna bagi James Riady untuk
menjalankan misinya, mendekati Bill Clinton Gubernur Arkansas, Amerika Serikat.
Mengenai mengapa James
Riady yang dipercayakan melakukan operasi intelijen China itu, Mochtar Riady
mengungkap pepatah China: “Menangkap Kuda Pakai Kuda”. James sebaya dengan
Clinton sehingga tidak ada hambatan psikologis dan komunikasi di antara mereka.
James Riady berbekal
pengetahuan dari intelijen China mengenai sosok Bill Clinton, segera melakukan
pendekatan kepada Clinton pada saat awal kedatangannya ke Little Rock City,
Arkansas. Di awali dengan “courtessy call”, dilanjutkan dengan beberapa
pertemuan dan penyampaian penawaran bantuan dari James Riady yang mustahil
ditolak Clinton.
James tahu persis
karakter, gaya hidup flamboyan Clinton dan kegemarannya berada di dekat para
wanita muda dan cantik. Semua itu membutuhkan biaya besar yang mustahil ditutup
dari gaji Clinton sebagai gubernur atau meminta uang dari Hillary, istrinya
yang berpenghasilan jauh lebih besar sebagai pengacara terkemuka di Arkansas.
Singkatnya, James
hadir sebagai solusi bagi Clinton, di antaranya melalui program investasi ajaib
dari Wharton Bank milik James Riady khusus kepada Hillary dan Bill Clinton
dengan yield hasil investasi hingga ratusan persen per tahun. James Riady dan
Wharton Bank menjadi kasir dan juru bayar semua biaya kenakalan Clinton semasa
jadi Gubernur Arkansas.
Dilahirkan
sebagai William Jefferson Blythe III di Hope, Arkansas,
Amerika Serikat, adalah Presiden Amerika Serikat ke-42 dari Partai Demokrat. Ia
menjabat dua kali masa jabatan periode (20 Januari 1993 – 20 Januari 2001).
Terpilih pertama kali pada pilpres 4 Nopember 1992 dan pada pilpres 4 Nopember
1996.
Clinton pertama kali
terpilih sebagai Gubernur Arkansas pada tahun 1978 pada usia 32 tahun, yang
menjadikannya gubernur termuda di Amerika. Pada pemilihan gubernur berikutnya,
ia dikalahkan calon dari partai republik. Namun, Clinton kembali berhasil
memenangkan jabatan Gubernur Arkansas pada pemilihan berikutnya dan terus
menjabat gubernur sampai tahun 1991.
Karir politiknya yang
luar biasa menjadikan Clinton sebagai tokoh muda Amerika yang diramalkan banyak
pihak bakal menjadi presiden Amerika di masa mendatang. Hal ini juga menjadi
motif intelijen China untuk membangun hubungan pribadi dengan Clinton sejak
tahun 1985 melalui James Riady.
Suharto: Dari
Aset ke Liability
Di mata pemerintah AS,
Indonesia dan Suharto adalah sekutu terpenting di Asia Tenggara. Sejak
keberhasilan Suharto menghancurkan ancaman komunis pada 1965 dan kebijakan
pemerintah Orde Baru Suharto yang pro Amerika, menjadikan Suharto aset sangat
berharga bagi Amerika dan sekutunya, setidaknya hingga tahun 1996.
Perubahan sikap
Amerika Serikat terhadap Suharto baru benar-benar terjadi pasca terpilihnya
Clinton sebagai presiden AS untuk periode kedua Nopember 1996. Pengaruh James
Riady dan CSIS (Center for Strategic and International Studies – Lembaga
pemikir penasihat kebijakan pemerintah ORBA 1971-1990) terhadap Bill Clinton
menjadi penyebab utama perubahan sikap AS terhadap Suharto.
Setelah menikmati
segala keistimewaan dan hak khusus selama 20 tahun dari pemerintah Suharto,
kelompok Tionghoa dan elit katolik Indonesia tidak dapat menerima begitu saja
perubahan sikap dan kebijakan Suharto yang mulai merangkul pribumi dan umat
Islam Indonesia. Konglomerat tionghoa dan elit katolik menilai kebijakan
Suharto yang pro Islam sejak 1988 sebagai ancaman supremasi ekonomi dan politik
mereka.
Ketika Suharto semakin
mendekat kepada mayoritas pribumi dan Islam, CSIS melalui Vatikan dan jaringan
katolik internasional seperti Santamaria, mulai melakukan perlawanan untuk
menggulingkan Suharto. Selama beberapa tahun, upaya mereka menjatuhkan Suharto
dengan menghimpun semua kekuatan di luar Islam ternyata gagal, Suharto malah
makin mesra dan erat dengan Islam.
Pada tahun berikutnya,
Suharto mendorong dan merestui lahirnya ICMI,
perbankan dan asuransi syariah, media Islam (Republika, TPI), Dompet Dhuafa,
menunaikan ibadah haji, memberi dukungan kepada negara Bosnia yang mayoritas
muslim, mendorong ekonomi dan politik Islam yang selama puluhan tahun
tertinggal untuk mulai tumbuh dan berkembang.
Semua ini meningkatkan resistensi komunitas
Tionghoa dan minoritas khususnya katolik radikal terhadap Suharto. Berbagai
fitnah dan opini mulai disebarkan: KKN Suharto, Gurita Bisnis Keluarga Cendana,
rezim represif, dan seterusnya. Suharto dan keluarganya terus menerus diserang
fitnah dan opini, rekayasa dari kelompok ini.
Namun, tetap tidak
berhasil menggulingkan Suharto dari kursi kekuasaan.
Kesempatan menjatuhkan
Suharto baru terbuka ketika China melalui James Riay dan para agen nya berhasil
memberi kontribusi besar kepada kemenangan Bill Clinton pada pilpres Nopember
1996 melalui bantuan dana kampanye secara ilegal yang dipasok dari Global China
Resources Ltd, Hong Kong – perusahaan kedok dari China Military Intelligent.
Pasokan uang itu mengalir ke Partai Demokrat
AS dari sumbangan para orang China di Amerika Serikat. Para penyumbang kampanye
Bill Clinton itu sebelumnya menerima transfer uang dari Bank Lippo Jakarta,
Indonesia milik James Riady.
Utang budi dan
pertemanan menjadi dasar Clinton terlibat dalam penggulingan Suharto. Sadar
bahwa Indonesia dan Suharto adalah sekutu utama AS, Clinton menggunakan tangan
IMF untuk mencapai tujuannya.
China sebagai negara
yang menikmati hasil terbesar dari penjatuhan Suharto oleh AS – IMF memainkan
peran di balik layar dan pengerahan intelijen secara masif di Indonesia pada
masa itu.
Akhirnya, sejarah
mencatat
Suharto mengundurkan
diri pada 21 Mei 1998.
Konstitusi RI dirombak
total melalui tekanan berabagi organisasi di bawah PBB dan NDI (National
Democrat Institute/lembaga kajian Partai Demokrat AS) dan para kolaborator
lokal seperti Kornop, LBH, Cetro dan lain-lain.
Melalui amandemen UUD
45 khususnya penghapusan ketentuan mekanisme pelaksanaan kedaulatan rakyat dan
syarat presiden harus orang Indonesia asli, China-Konglomerat Tionghoa-CSIS dan
kekuatan asing lain dengan mudah menguasai dan mengendalikan Indonesia
sepenuhnya melalui proksi atau pemimpin boneka.
Sejak 1999 Indonesia
silih berganti menjadi korban neoimperialisme asing.
Puncaknya pada 2014,
Ketika China - P Demokrat AS - Cukong - CSIS,: berhasil mendudukan seorang boneka menjadi penguasa tertinggi negara.
Sejujurnya, kita – rakyat Indonesia bisa
bertanya kepada mantan Presiden SBY: “Mengapa akhirnya Pak SBY menyerah?
Memilih mengkhianati Prabowo-Hatta, membantu kemenangan Jokowi-JK dengan segala
cara.”
Kotak Pandora27/09/2018 Politik