Kamis, 30 April 2026

Siapa yang menjungkalkan kursi Suharto 1998 ?


Alasan Clinton – China Menggulingkan Suharto Pada 1998

Kotak Pandora27/09/2018Politik



 


Foto ikonik Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Michel Camdessus yang berdiri ketika Presiden Soeharto dengan lengan terlipat, terlintas di pikiran seperti seorang guru sekolah yang sedang menjatuhkan hukuman kepada muridnya yang nakal, melambangkan kejatuhan pemimpin besar Indonesia yang sudah berusaha maksimal membangun Indonesia dan mensejahterakan rakyatnya.


Hari itu tanggal 15 Januari 1998, ekonomi Indonesia yang seharusnya tidak terpengaruh hebat akibat dampak krisis keuangan dan moneter Asia, akhirnya menyerah kalah pada krisis yang direkayasa Amerika Serikat dan China yang berkolaborasi dengan IMF.

Hari itu 15 Januari 1998, Suharto dan Indonesia masuk perangkap situasi yang diciptakan konspirasi global yang didukung penuh mayoritas konglomerat Tionghoa Indonesia.

IMF menyetujui kucuran utang untuk Indonesia dengan penandatangan perjanjian utang beserta syarat-syarat yang harus dipatuhi Indonesia oleh Presiden Soeharto. Dengan menandatangani perjanjian utang US$ 43 miliar, IMF mendorong percepatan kejatuhan Presiden Suharto, dan merancang masa depan baru untuk Indonesia yang sarat kepentingan Amerika, China dan para konglomerat Tionghoa Indonesia.

 

Peran Besar Presiden Bill Clinton 

Rakyat Indonesia tidak mengetahui peran besar Presiden AS saat itu Bill Clinton dalam menekan Presiden Suharto agar menyetujui paket persyaratan dan rencana kebijakan IMF yang harus dipatuhi Indonesia, termasuk penutupan pabrik pesawat terbang PT IPTN, penghapusan peran BULOG sebagai penyangga stabilitas harga 9 bahan pokok, penghapusan berbagai subsidi, pembatalan program mobil nasional Timor, dan penerapan pasar bebas di Indonesia.


Singkatnya, penandatangan perjanjian dan butir -butir persyaratan penjanjian IMF-RI adalah lonceng kematian untuk kedaulatan ekonomi RI. Indonesia seketika berada dalam cengkeraman kekuasaan dan kendali IMF.


Campur tangan Pemerintah Amerika terutama secara langsung melalui tangan Presiden Bill Clinton, sesungguhnya bukan suatu hal rahasia lagi.


Transkrip tiga percakapan telepon Bill Clinton – Suharto yang tahun lalu dinyatakan bebas diakses publik, menunjukkan betapa ‘persuasifnya’ Presiden Amerika itu dalam meyakinkan Presiden Suharto. Clinton menekankan kecemasannya bahwa Suharto akan ‘diterjang peluru rakyatnya sendiri’ ketika nilai tukar rupiah jatuh dari 2.500 menjadi lebih dari 16.000 per 1 dolar AS.




Usai Suharto meneken perjanjian utang dengan IMF, Clinton dengan lega dapat berkata kepada sahabat karibnya James T Riady, “My mission has accomplished. One of my debts paid off !


Mantan Menteri Luar Negeri AS Lawrence Eagleburger memiliki penilaian khusus setelah pengunduran diri Suharto, 21 Mei 1998: “Kami cukup pandai karena menggunakan IMF untuk menggulingkan Suharto. Apakah itu cara bijaksana untuk selanjutnya, adalah masalah lain. ”


Pada akhirnya, gerakan reformasi di Indonesia hanya memperburuk krisis ekonomi dan membawa Indonesia mundur beberapa dekade ke belakang.


Perdana Menteri Australia Paul Keating – yang menjalin hubungan dekat dengan pemimpin Indonesia selama bertahun-tahun menuding Departemen Keuangan AS “ … dengan sengaja menciptakan keruntuhan ekonomi sebagai sarana untuk membawa kejatuhan Soeharto …”


Kolaborasi Amerika Serikat, China, CSIS, James Riady – Wanandi Bersaudara telah secara efektif mempercepat keruntuhan Rezim Suharto, sebagaimana telah mereka rencanakan jauh sebelumnya.


Bahkan Camdessus secara tidak tahu malu, dengan gaya bak penguasa pada saat penandatanganan LoI IMF-RI yang meninggalkan kemarahan rakyat Indonesia, mengatakan: “Kami menciptakan kondisi yang mengharuskan Suharto untuk meninggalkan kuasaannya. Kami bangga dengan itu!”


Clinton Tekan Suharto


Pelepasan status rahasia pada transkrip dan dokumen-dokumen AS lainnya, yang datang dari era tahun 1990-2000 itu dilakukan hanya dua bulan sebelum lebih dari 15.000 delegasi berkumpul untuk konferensi tahunan IMF-World Bank Group di Bali, Indonesia.


Pemerintah Jokowi mendapat kecaman keras atas keputusannya menanggung semua biaya acara tahunan kedua lembaga keuangan dunia, yang menghabiskan uang pajak rakyat sekitar Rp 1 triliun rupiah di tengah kemerosotan ekonomi dan lonjakan utang luar biasa di era pemerintahannya.


Kondisi ekonomi Indonesia sekarang sangat mengkhawatirkan Presiden Joko Widodo dalam persiapan untuk memenangkan pemilihan presiden tahun 2019: rupiah sekarang bertengger di 15.190 per satu dolar Amerika, level tertinggi sejak 1997-1988 crash, meskipun pengeluaran bank sentral (BI) sudah mencapai 12 miliar dolar Amerika dalam beberapa bulan terakhir untuk menopang mata uang.


IMF diam-diam sudah mengucurkan sekitar 8 miliar dolar Amerika pada bulan Juni 2018 lalu untuk mengamankan nilai tukar mata uang rupiah terjun bebas. Kemerosotan nilai rupiah sangat mengkhawatirkan mengingat utang negara dalam denominasi dolar AS sangat tinggi.


Meskipun tidak seorang pun berani mengatakan bahwa Indonesia dapat bertahan menghadapi ancaman pelemahan rupiah ini, namun sejarah siap untuk berulang dan menempatkan presiden Jokowi sebagai tumbalnya.


Kondisi ekonomi goyah, mata uang jatuh, utang melonjak, beban pembiayaan proyek infrastruktur melebihi daya tahan APBN, kredit dan investasi menurun, defisit neraca pembayaran karena impor terus menerus melampaui ekspor, dan seterusnya memiliki konsekuensi politik bagi PresidenJoko Widodo menjelang pemilihan presiden April 2019 mendatang.


Disebutkan dalam dokumen tersebut, Clinton pertama kali menekan Suharto pada 8 Januari 1998, untuk mendesaknya mendukung reformasi ekonomi dan untuk menjaga suku bunga tetap tinggi sampai rupiah mulai stabil.


Clinton menawarkan jasa Deputi Menteri Keuangan Larry Summers sebagai konsultan untuk membantu dalam proses reformasi di Indonesia. Presiden Suharto, dengan gaya Jawa yang khas, mengucapkan terima kasih kepada Clinton dan berjanji akan mempertimbangkan sungguh-sungguh usulan dan saran Amerika.


Keesokan hari, dari arsip dokumen rahasia itu, menyebut Menteri Perdagangan dan Industri Indonesia Tunky Ariwibowo mengatakan kepada duta besar AS untuk Jakarta Stapleton Roy bahwa Suharto terkesan dengan Clinton dan wawasannya tentang bagaimana masyarakat internasional memandang situasi Indonesia.


Panggilan telepon berikutnya, Clinton menguraikan rencananya membantu Indonesia dan menyampaikan saran kepada Suharto untuk melaksanakan perjanjian IMF dan mereformasi sistem perbankan pusat dan swasta, sebagaimana yang diharuskan dalam letter of intent (Lo) IMF. Hasilnya luar biasa, dolar AS tetap melambung, 16 bank ditutup dan meninggalkan utang serta kewajiban perbankan ratusan triliun rupiah yang harus dipikul Bank Indonesia dan rakyat Indonesia.

 

Clinton Tolak Rencana Suharto Terapkan Saran Steve Hanke


Clinton menelpon Suharto untuk ketiga kalinya dari Camp David 13 Februari 1998.

 Tanpa keramahan seperti sebelumnya, kali ini Clinton menentang rencana Suharto untuk membentukan Dewan Mata Uang, sesuai saran ekonom terkemuka dunia, Steve Hanke.

Clinton mengancam Suharto dengan mengatakan AS dan negara G7, semua percaya rencana Suharto untuk menerapkan saran Steve Hanke akan menimbulkan risiko terhadao “segala sesuatu yang telah Anda capai.”


“Pasar akan bereaksi negatif jika dewan itu dibentuk. Semua investor dan pelaku pasar akan lari dari Indonesia dan itu secara serius akan menghabiskan cadangan devisa Indonesia serta mempersulit upaya IMF dan masyarakat internasional untuk memberikan dukungan,” ancam Clinton kepada Suharto.


Tak cukup sampai di situ, Clinton memperingatkan Suharto: “Rencana Anda itu akan menaikkan suku bunga, menyebabkan runtuh bank-bank dan sistem perbankan dan membuatnya lebih mudah bagi spekulan untuk bergerak melawan rupiah.”


Clinton mengatakan meskipun dewan mata uang telah terbukti berhasil di beberapa negara, namun tidak akan berhasil di Indonesia.

Lalu Clinton menyimpulkan, akan lebih baik jika Suharto memperkuat sistem perbankan, menyelesaikan utang sektor swasta dan terus menerapkan reformasi IMF.


Suharto menanggapi ancaman Clinton itu dengan mengeluh bahwa resep IMF tampak tidak berhasil dan menjadikan situasi ekonomi RI semakin buruk, padahal pemerintah sudah menghabiskan AS $ 10 miliar dari cadangan devisa yang sudah sangat menipis untuk menopang rupiah.


“Jika pemerintah terus campur tangan, kami akan menghabiskan cadangan,” kata Suharto membantah Clinton.


Clinton tidak menanggapi protes Suharto. Dia terus menekan Suharto untuk membatalkan rencana menjalankan saran Steve Hanke.


Mengenai Steve Hanke sendiri, pada awal kedatangannya ke Indonesia, semua dilakukan secara rahasia. Edward Suryadjaya anak tertua konglomerat ASTRA, secara khusus menjemput Hanke dengan pesawat pribadi dan membawanya masuk ke Jakarta melalui Bandara Halim Perdana Kusuma.


 Namun, agen intel Amerika dan China pada saat itu menyebar di seluruh penjuru Jakarta untuk mengamankan agenda politik Clinton-RRC: memaksa Suharto turun dari kekuasaan dan mengambilalih kekuasaan di Indonesia melalui proksi mereka serta jebakan sistem demokrasi liberal yang dipaksakan kepada Indonesia.

 

Agenda Politik China-Cukong-CSIS & Kilas Balik Clinton-Riady


Keberhasilan James Riady meyakinkan Presiden Bill Clinton agar segera menjadikan penggulingan Suharto sebagai program prioritas Pemerintah Amerika Serikat pada akhir tahun 1996, tidak lepas dari utang budi dan pertemanan lama Clinton-Riady.


Mereka berdua sudah menjalin hubungan erat sejak 1985 ketika James Riady ditugaskan untuk mendekati Bill Clinton, yang namanya masuk dalam radar intelijen China sebagai calon presiden Amerika di masa depan.

Penugasan China kepada James Riady untuk mendekati Bill Clinton dimulai dengan kunjungan Liem Sioe Liong (Sudono Salim) dan Mochtar Riady ke kota Little Rock, Arkansas.


Liem Sioe Liong adalah konglomerat terkaya di Indonesia, sekaligus pemilik Bank terbesar BCA. Mochtar Riady adalah ayah James Riady yang pada saat itu menjabat Direktur Utama Bank BCA.


Maksud kunjungan mereka ke ibukota negara bagian Arkansas itu adalah mencari bank yang akan segera dibeli dan selanjutnya menjadi samaran sempurna bagi James Riady untuk menjalankan misinya, mendekati Bill Clinton Gubernur Arkansas, Amerika Serikat.


Mengenai mengapa James Riady yang dipercayakan melakukan operasi intelijen China itu, Mochtar Riady mengungkap pepatah China: “Menangkap Kuda Pakai Kuda”. James sebaya dengan Clinton sehingga tidak ada hambatan psikologis dan komunikasi di antara mereka.


James Riady berbekal pengetahuan dari intelijen China mengenai sosok Bill Clinton, segera melakukan pendekatan kepada Clinton pada saat awal kedatangannya ke Little Rock City, Arkansas. Di awali dengan “courtessy call”, dilanjutkan dengan beberapa pertemuan dan penyampaian penawaran bantuan dari James Riady yang mustahil ditolak Clinton.

James tahu persis karakter, gaya hidup flamboyan Clinton dan kegemarannya berada di dekat para wanita muda dan cantik. Semua itu membutuhkan biaya besar yang mustahil ditutup dari gaji Clinton sebagai gubernur atau meminta uang dari Hillary, istrinya yang berpenghasilan jauh lebih besar sebagai pengacara terkemuka di Arkansas.


Singkatnya, James hadir sebagai solusi bagi Clinton, di antaranya melalui program investasi ajaib dari Wharton Bank milik James Riady khusus kepada Hillary dan Bill Clinton dengan yield hasil investasi hingga ratusan persen per tahun. James Riady dan Wharton Bank menjadi kasir dan juru bayar semua biaya kenakalan Clinton semasa jadi Gubernur Arkansas.


Dilahirkan sebagai William Jefferson Blythe III di Hope, Arkansas, Amerika Serikat, adalah Presiden Amerika Serikat ke-42 dari Partai Demokrat. Ia menjabat dua kali masa jabatan periode (20 Januari 1993 – 20 Januari 2001). Terpilih pertama kali pada pilpres 4 Nopember 1992 dan pada pilpres 4 Nopember 1996.


Clinton pertama kali terpilih sebagai Gubernur Arkansas pada tahun 1978 pada usia 32 tahun, yang menjadikannya gubernur termuda di Amerika. Pada pemilihan gubernur berikutnya, ia dikalahkan calon dari partai republik. Namun, Clinton kembali berhasil memenangkan jabatan Gubernur Arkansas pada pemilihan berikutnya dan terus menjabat gubernur sampai tahun 1991.

Karir politiknya yang luar biasa menjadikan Clinton sebagai tokoh muda Amerika yang diramalkan banyak pihak bakal menjadi presiden Amerika di masa mendatang. Hal ini juga menjadi motif intelijen China untuk membangun hubungan pribadi dengan Clinton sejak tahun 1985 melalui James Riady.

 

Suharto:  Dari Aset ke Liability


Di mata pemerintah AS, Indonesia dan Suharto adalah sekutu terpenting di Asia Tenggara. Sejak keberhasilan Suharto menghancurkan ancaman komunis pada 1965 dan kebijakan pemerintah Orde Baru Suharto yang pro Amerika, menjadikan Suharto aset sangat berharga bagi Amerika dan sekutunya, setidaknya hingga tahun 1996.


Perubahan sikap Amerika Serikat terhadap Suharto baru benar-benar terjadi pasca terpilihnya Clinton sebagai presiden AS untuk periode kedua Nopember 1996. Pengaruh James Riady dan CSIS (Center for Strategic and International Studies – Lembaga pemikir penasihat kebijakan pemerintah ORBA 1971-1990) terhadap Bill Clinton menjadi penyebab utama perubahan sikap AS terhadap Suharto.


Setelah menikmati segala keistimewaan dan hak khusus selama 20 tahun dari pemerintah Suharto, kelompok Tionghoa dan elit katolik Indonesia tidak dapat menerima begitu saja perubahan sikap dan kebijakan Suharto yang mulai merangkul pribumi dan umat Islam Indonesia. Konglomerat tionghoa dan elit katolik menilai kebijakan Suharto yang pro Islam sejak 1988 sebagai ancaman supremasi ekonomi dan politik mereka.


Ketika Suharto semakin mendekat kepada mayoritas pribumi dan Islam, CSIS melalui Vatikan dan jaringan katolik internasional seperti Santamaria, mulai melakukan perlawanan untuk menggulingkan Suharto. Selama beberapa tahun, upaya mereka menjatuhkan Suharto dengan menghimpun semua kekuatan di luar Islam ternyata gagal, Suharto malah makin mesra dan erat dengan Islam.


Pada tahun berikutnya,


 Suharto mendorong dan merestui lahirnya ICMI, perbankan dan asuransi syariah, media Islam (Republika, TPI), Dompet Dhuafa, menunaikan ibadah haji, memberi dukungan kepada negara Bosnia yang mayoritas muslim, mendorong ekonomi dan politik Islam yang selama puluhan tahun tertinggal untuk mulai tumbuh dan berkembang.


 Semua ini meningkatkan resistensi komunitas Tionghoa dan minoritas khususnya katolik radikal terhadap Suharto. Berbagai fitnah dan opini mulai disebarkan: KKN Suharto, Gurita Bisnis Keluarga Cendana, rezim represif, dan seterusnya. Suharto dan keluarganya terus menerus diserang fitnah dan opini, rekayasa dari kelompok ini.


Namun, tetap tidak berhasil menggulingkan Suharto dari kursi kekuasaan.


Kesempatan menjatuhkan Suharto baru terbuka ketika China melalui James Riay dan para agen nya berhasil memberi kontribusi besar kepada kemenangan Bill Clinton pada pilpres Nopember 1996 melalui bantuan dana kampanye secara ilegal yang dipasok dari Global China Resources Ltd, Hong Kong – perusahaan kedok dari China Military Intelligent.


 Pasokan uang itu mengalir ke Partai Demokrat AS dari sumbangan para orang China di Amerika Serikat. Para penyumbang kampanye Bill Clinton itu sebelumnya menerima transfer uang dari Bank Lippo Jakarta, Indonesia milik James Riady.


Utang budi dan pertemanan menjadi dasar Clinton terlibat dalam penggulingan Suharto. Sadar bahwa Indonesia dan Suharto adalah sekutu utama AS, Clinton menggunakan tangan IMF untuk mencapai tujuannya.


China sebagai negara yang menikmati hasil terbesar dari penjatuhan Suharto oleh AS – IMF memainkan peran di balik layar dan pengerahan intelijen secara masif di Indonesia pada masa itu.


Akhirnya, sejarah mencatat

Suharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.


Konstitusi RI dirombak total melalui tekanan berabagi organisasi di bawah PBB dan NDI (National Democrat Institute/lembaga kajian Partai Demokrat AS) dan para kolaborator lokal seperti Kornop, LBH, Cetro dan lain-lain.

Melalui amandemen UUD 45 khususnya penghapusan ketentuan mekanisme pelaksanaan kedaulatan rakyat dan syarat presiden harus orang Indonesia asli, China-Konglomerat Tionghoa-CSIS dan kekuatan asing lain dengan mudah menguasai dan mengendalikan Indonesia sepenuhnya melalui proksi atau pemimpin boneka.


Sejak 1999 Indonesia silih berganti menjadi korban neoimperialisme asing.


Puncaknya pada 2014, 


Ketika China - P Demokrat AS - Cukong - CSIS,:  berhasil mendudukan seorang boneka menjadi penguasa tertinggi negara. 


Sejujurnya, kita – rakyat Indonesia bisa bertanya kepada mantan Presiden SBY: “Mengapa akhirnya Pak SBY menyerah? Memilih mengkhianati Prabowo-Hatta, membantu kemenangan Jokowi-JK dengan segala cara.”

Kotak Pandora27/09/2018  Politik